Surat Kamu

Dear kamu

Yang menjadi sumber insight tentang kelemahan diriku

 

Halo kamu yang menghilang lagi. Jika ada gelar yang ingin ku sandingkan untukmu, maka kau adalah jagoan dalam menghilang lalu datang kemudian hilang lagi. Kamu membuat aku dalam paradox. Ada saat dimana aku merasa dibutuhkan dan sisanya terbuang atau lebih tepatnya dibuang. Aku ingin bercerita tentang satu hal, maukah kau mendengar?

Aku pernah berharap seseorang menjadi vaksin antara aku dan kamu. Aku kira aku berhasil saat itu, aku bisa dan aku tunjukkan kepada dirimu bahwa aku memang bisa. Kau cukup tahu diri untuk tetap menjaga jarak walau tidak pergi. “Ini terakhir kali aku menghubungi kamu” pada akhirnya Cuma jadi momok antara kita. Sampai pada suatu hari, orang itu bukannya membuat aku kebal, tapi infeksi dan aku terluka lebih dalam lagi. Kamu datang dan aku seperti orang linglung yang mencari pegangan dan satu-satunya sandaran adalah kamu (pada waktu itu). Lalu kamu menghilang, benar-benar menghilang, tanpa ada salam perpisahan dan tanpa alasan.

Kamu tahu, kamu punya bakat ajaib dimana kamu bisa membuat aku merasa bersalah tiap kali kamu menghilang. Aku selalu introspeksi dan merasa semua salah aku untuk memanfaatkan kamu, menimpakan kamu semua kesedihan dan kesakitan aku tentang orang itu. Lalu aku memutuskan untuk membiarkan kamu pergi. Lalu kamu kembali datang lagi. Ku kira jeda yang cukup panjang tersebut membuat kamu bisa dan tersadar tentang aku, tentang kita. Aku salah. Aku terlalu bodoh untuk percaya lagi.

Aku selalu bingung kenapa orang lain bisa bilang, “Sayang aku tinggal sedikit. Kamu pantas dapat yang lebih baik.” Atau “Sayang aku udah habis. Tidak ada rasa seperti dahulu lagi.” Aku bingung kenapa orang bisa cinta lalu menganggap tidak ada apa-apa. Aku sakit hati saat orang itu bilang, “aku bisa mengubah skema tentang kamu, bahwa kamu kembali menjadi commonface in the crowd,” hal yang mati-matian tak aku bisa.

Kamu tahu? Seorang teman aku berjuang mati-matian, untuk menjadi yang terbaik buat orang yang ia cintai. Tapi aku tak bisa sepertinya. Kamu dan orang itu membuat aku tersadar, bahwa sekeras apapun aku mencoba, aku tak akan pernah bisa menjadi orang yang berharga buat kalian. Aku tak akan bisa membuat kalian menjadi lebih baik, sekeras apapun aku mencoba. Aku tak akan menjadi cukup baik bagi kalian untuk dipertahankan. Bahwa kalian dengan mudahnya bisa menyerahkan atau mengungkap bahwa sayang bisa habis dan sekuat apapun tanpa melihat apa yang telah kita lalui. Aku pun khawatir… bahwa di depan nanti, orang yang aku anggap spesial tak akan melihat betapa kerasnya usaha aku untuk mengkonkritkan apa itu cinta. Bahwa aku rela untuk melakukan apa saja asal orang yang aku cintai bisa tumbuh dan berkembang dan dia akan meninggalkan aku, sama seperti yang kamu dan orang itu lakukan. Aku takut… takut ini menggerogoti, seperti luka yang menganga terkena infeksi. Lalu aku sebenarnya menunggu waktu untuk ini diamputasi lalu aku tak akan menjadi orang yang sama lagi.

Aku tahu aku bukan apa-apa. Tak akan pernah jadi apa-apa.

Dari aku

Yang tak tahu harus bagaimana

Cibubur, not in the good mood

Iklan

Untuk Kamu (4)

“Karena kamu adalah kebaikan yang Tuhan janjikan. Maka aku harus mengisi hari dengan hal-hal baik, membuat diri jadi baik, mewujudkan kamu dengan cara yang baik, sampai waktu yang ditetapkan Tuhan untuk kita saling menemukan”

Cibubur, in the middle of BAB V