Bertemu Kamu

Lagi, pikiran saya kembali ke kamu. Padahal, sebulan dua bulan ini kamu terlupakan, atau setidaknya tak pernah datang ke pikiran. Kapankah kamu datang?

Dan saya tertawa sendiri sebab saya tahu, entah kenapa, sekarang bukan waktu yang sesuai untuk kamu datang. Saya lalu meringis dan mungkin agak menghujat kenapa bukan sekarang, walau saya tahu alasannya. Pathetic, isn’t it? Tapi saya kadang tak tahan untuk bilang cepatlah kamu datang. Mungkin karena dikelilingi banyak orang-orang yang sudah terlengkapi dan saya merasa terkadang Masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan dalam diri saya, walau saya tahu beberapa hal memang tidak akan selesai. Namun untuk beberapa hal, saya ingin selesai, saya ingin berdamai dengan diri lalu saya bisa memfokuskan untuk bisa menjadi seseorang, demi diri saya sendiri. Sebab kamu ada bukan untuk mendengarkan racauan keluh kesah saya, kamu ada bukan untuk menjadi bantalan saya, kamu ada bukan untuk menjadi tambalan saya dan menutupi saya.

Saya percaya kamu ada untuk membantu kita bertumbuh, menjadi lebih baik bersama, walau saya sekarang ragu apakah saya cukup baik untuk membantu kita bertumbuh dan saya rasa justru karena itu kita belum bisa saling menemukan. Maka saya harus berdamai dengan diri sendiri (lagi) dan menaruh langkah konkrit untuk menyiapkan diri bertemu kamu, bukan seperti anak kecil yang meraung tanpa melakukan apapun mendapatkan permen, kan?

I should learn to dance alone, even in the storm, and enjoy it so that we can do tango together after we meet, right?

Kuningan, Ga ada kerjaan (jilid 2)

Waiting with Lantern
Waiting with Lantern
Iklan

Daily Dialogue

My Lecturer : Well, somebody should feel lucky to have you as his girlfriend and maybe.. wife
Me : Unfortunately, some people in my past don’t think so. If they do, They didn’t do what they did to me.
My Lecturer : You deserve someone better then 🙂 you should believe that.

Kampus, Another heartwarming moment, 2013

Ps: I know.. I am waiting for him and preparing myself to be better and better