Selamat Idul Fitri! Mohon maaf atas segala khilaf dan salah yang saya lakukan. Walau sudah seminggu semoga semangat untuk lebih baik di Ramadhan bisa terus berlanjut. Surprise kah membaca tulisan ini dalam bahasa Indonesia? hahaha bukan saya sok jago ‘Nginggris’ (Yah silahkan baca tulisan saya yang bahasa Inggris, pasti juga akan dikecam Grammar Nazis) atau bagaimana. Karena tulisan di blog ini berdasarkan apa yang saya rasakan (mostly), ada tulisan yang memang saya rasakan lebih enak ditulis dalam Bahasa Inggris dan Indonesia. Dan tulisan yang saya sekarang post, akan lebih ‘ngena’ saya tulis dalam bahasa Indonesia.
Di Ramadhan kemarin, kondisi saya mulai membaik dalam segi fisik ya. Keluarga saya tahu saya kewalahan jika berpuasa karena mudahnya asam lambung saya naik. Semakin tua, semakin jompo juga performa tubuh saya, mungkin karena banyak kebiasaan jelek juga yang saya lakukan yang berpengaruh ke sistem pencernaan. Tapi tahun ini sedikit berbeda karena saya menyempatkan waktu untuk mencari tahu cara mengurangi asam lambung saya. Mulai dari tidur yang berjarak dari makan, mengurangi makanan pedas, mulai peka makanan mana yang mentrigger asam lambung (saya baru tahu tiap orang bisa beda). Saya juga mulai menerima bahwa ya tidak apa-apa jika saya sudah mulai menerapkan masih ketrigger asam lambungnya naik (karena stress), yang penting saya sudah usaha. Dan akhirnya jika memang sudah puncaknya dan tidak tahan, ya saya muntahkan saja asam lambungnya. Dan yang saya pahami sejauh ini adalah puasa saya masih sah karena muntahnya bukan karena hal yang disengaja.
Di Ramadhan ini juga saya mulai kebiasaan yang menurut saya baik, mulai membaca arti dari ayat Al-Quran. Saya cukup bangga (bercampur malu) karena di usia saya yang 29 ini saya mulai mau membaca arti ayat Al-Quran saat Muroja’ah. Biasanya target saya hanya khatam saja (yang biasanya juga satu kali, tidak totalitas seperti yang lain). Tapi melihat Mbak Dian Sastro yang tahun lalu semangat membaca Al-Quran dengan arti dan juga mungkin banyak keresahan juga di hati saya, mengenai banyak hal. Yang saya rasa karena saya tidak mengerti apapun padahal sudah jelas petunjukNya ada dalam Al-Quran. Saya mulai membaca.
Saya bilang membaca karena saya merasa untuk memahami arti ayat di Al-Quran, baiknya saya harus melengkapi dengan tafsir. Lebih bagus lagi jika saya bisa membaca banyak tafsir (karena memang pendekatan memahami Ayat Al-Quran bisa beragam). Tapi daripada saya overwhelming, target saya, saya baca dulu deh artinya. Apa yang saya pahami dengan pengetahuan dan nilai tentang Islam yang saya punya saat ini. Memang beda ya rasanya saat membaca dan memahami. Ada banyak arti yang saya baca tetapi tidak saya pahami karena keterbatasan pengetahuan saya. Buat banyak orang, mungkin banyak juga yang masih belum terima bahwa di ayat Al-Quran terkesan tidak adil dalam mengatur pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan. Memang ada ayatnya. Jika dihitung dari pecahannya, memang laki-laki mendapat hak yang lebih besar. Lalu juga ada ayat (atau tafsir saya lupa) yang menyatakan bahwa perempuan lebih rentan untuk masuk ke dalam Neraka. Pas baca ayat tersebut agak ngeri juga ya sebenarnya. Selain karena takut karena saya perempuan, tetapi saya juga jadi bertanya, “Kenapa harus perempuan yang disebut?” Walau sebenarnya lebih banyak di ayat lain bahwa siksa neraka ditujukan untuk orang yang tidak beriman, yang dzalim dan berbuat kerusakan di muka bumi. Banyak pertanyaan ini belum saya temukan jawabannya, saya harap saya bisa dapat kesempatan untuk mengeksplorasi hal ini lebih baik.
Membaca memang berbeda dengan memaknai. Saat membaca arti dari ayat Al-Quran, saya tandai dengan stabilo arti-arti ayat yang menurut saya bermakna untuk kehidupan saya. Paling tidak ada tiga tema yang beresonansi dengan diri saya.
Sebelum mulai, mungkin saya mau disclaimer dulu bahwa ini adalah hasil pemaknaan berdasarkan pengetahuan dan nilai yang saya anut saat ini, saya akui kurangnya adalah tidak dicari tahu lebih lanjut. Tetapi memang proses membaca dan memaknai ayat Al-Quran ini sedang menjadi topik yang sangat personal untuk saya.
1.Manusia diperintahkan untuk berbuat kebajikan
Ada banyak sekali arti ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik dan kebajikan di muka bumi. Ada yang memang perintahnya as it is, ada juga yang spesifik seperti berbuat baik kepada kedua orang tua, bersedekah kepada anak yatim dan fakir miskin, kepada saudara muslim. Tema ini menyentuh untuk diri saya karena saya merasa di diri saya sendiri dan mengobservasi di masyarakat, berbuat baik rasanya makin sulit. Makin banyak hambatan dan alasan untuk tidak melakukan hal ini. Terlebih ke orang lain yang berbeda dari kita misal suku, agama, etnis, atau aliran keagamaan. Prasangka dan stigma kita melekat di orang yang berasal dari kelompok yang berbeda, yang membuat kita jadi enggan membantu. Padahal sudah merupakah kehendak Allah swt sendiri untuk menjadikan umat manusia berbeda antara satu dengan lainnya. Lagi, tiap membaca ayat Al-Quran yang artinya ini, seakan menjadi reminder untuk terus berbuat baik, kepada siapapun, karena baik itu pesan dari Islam itu sendiri
2. Manusia diperintahkan untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi
Manusia adalah mahluk ciptaan Allah swt yang paling sempurna. Saya lupa di ayat berapa, tetapi Allah swt menyatakan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah yang diberikan fisik, lalu akal dan nurani. Dengan izin dan kebesaran Nya, manusia diciptakan menjadi mahlukNya yang terbaik dan diturunkan ke bumi sebagai rahmatan lil ‘alamin. Bahwa secara fitrah, manusia mampu menjadi rahmat bagi semesta alam. Saat baca ayat ini, sebenarnya saya langsung teringat ke kondisi bumi (alam) yang makin parah. Bahwa kita sebagai manusia makin tamak mengeksplor alam. Bahwa kemampuan kita mengelola alam dengan baik harus kalah dengan kepentingan kapitalisme yang tidak berakhir. Sedihnya lagi, manfaat secara ekonominya hanya bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu saja, bukan ke seluruh umat manusia. Saya jadi inga mengenai pohon yang ditebang, hewan yang diternakkan dengan tidak baik, hewan yang diburu hanya demi kesenangan, kepada sungai dan udara yang kita cemarkan untuk membuat kita lebih nyaman. Namun saya berpikir, kerusakan juga mungkin bukan hanya ke alam, tapi bagaimana kita juga berbuat dzalim kepada sesama manusia, membunuh orang lain karena kepentingan diri sendiri menjadi sesuatu yang lumrah, mengambil harta orang lain padahal tidak berhak, merampas tanah orang lain dengan curang, memfitnah orang demi menutup dosa sendiri, membela yang jelas salah dan melupakan keadilan serta banyak lagi dosa-dosa yang kita lakukan untuk kenikmatan sesaat di bumi. Kadang saya merasa ‘apa manusia masih beradab jika seperti ini akhirnya? Apakah kita masih menjadi Rahmat bagi semesta alam?.
3. Semua hal yang terjadi adalah kehendak Allah swt
Sebagai orang yang locus internalnya tinggi, ada banyak kesalahan dan ketidakbisaan yang saya salahkan ke diri saya. Saya juga dipenuhi kecemasan dalam kepentingan duniawi. Ada banyak hal yang saya kadang tidak tahu harus bagaimana, sehingga jadinya mumet dan merasa tidak berdaya. Membaca ayat Al-Quran dengan arti ini seperti dengan tegas mengingatkan ke saya bahwa “Allah swt adalah Maha Mengatur dan Mengetahui segalanya”. Bahwa rasa insecure dan cemas yang saya alami karena ternyata saya tidak punya pegangan, padahal harusnya kepada yang Maha Memberi Kesejahteraan dan Maha Memberi Perlindunan harusnya saya meminta. Saya jadi merasa sombong dan sendiri karena saya merasa harus menyelesaikan sendiri padahal jelas apa yang terjadi merupakan kehendakNya dan kita sebagai hambaNya punya privilege untuk meminta. Allah swt Yang Maha Berkehendak bukan berarti membuat takdir manusia menjadi fix. Tetap ada ayat yang meminta kita berusaha dengan baik (Allah swt tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali mereka merubah dirinya sendiri), juga berdoa karena sekali lagi atas segala kehendakNya lah semua terjadi. Jika sudah berusaha dan sudah meminta kepadaNya, sedangkan diriNya juga Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, buat apa kita merasa cemas? Ada suatu hitung-hitungan yang saya rasa di luar nalar saya mengenai takdir yang ditetapkan olehNya kepada saya. Saya percaya takdir masih bisa berubah, kita hanya perlu berusaha dan meminta kepadaNya karena tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi Allah swt merupakan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Saya sangat suka dua nama Asma ul Husna ini karena terasa hangat saja. Buat saya yang rentan merasa stress sendiri, untuk tahu ada yang Maha Pengasih dan Penyayang yang memerhatikan saya, rasanya bahagia betul :”). Karena apapun yang terjadi adalah kehendakNya, saya juga menyadari bahwa untuk tetap bisa beriman, bisa berusaha menjadi orang yang baik dan tidak dzalim juga juga harus atas izinNya, maka saya mulai berdoa untuk ini. Saya yang dulu merasa sudah jadi ‘orang baik’ atau ‘normal’, jadi lebih mawas dan berefleksi diri, jangan-jangan ini hanya kesombongan di diri saya saja, na’udzbillahi min dzalik.
Itu ketiga tema yang sangat terasa resonannya saat membaca ayat Al-Quran. Ada banyak hal yang ingin lebih saya pribadi maknai dan ambil hikmah. Doakan kebiasaan ini bisa konsisten dan lebih baik, InsyaAllah.
Cibubur, 21 Mei 2021
Habis Ramadhan, Hujan alhamdulillah


